Dakwah Itu Perjuangan & Pengorbanan, Bukan Tentang Kenyamanan

Muhammad Yugi Prayogo

4/6/20262 min read

Dakwah itu memang bisa tampil dalam wajah yang menyenangkan.


Ia bisa hadir dalam forum yang hangat, pertemuan yang akrab, perjalanan yang menggembirakan, atau kebersamaan yang menghadirkan semangat. Pada level uslub, itu maqbul. Dakwah memang tidak harus selalu tampil kaku, tegang, atau berat secara lahiriah. Ada ruang untuk kelembutan, kehangatan, bahkan keceriaan.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh kabur dari kesadaran seorang pengemban dakwah: hakikat dakwah bukanlah keseruan, melainkan perjuangan.
Dakwah menuntut kesungguhan. Dakwah meniscayakan pengorbanan. Dakwah mengharuskan kesiapan untuk menempuh jalan yang panjang, melelahkan, dan kadang sunyi. Bahkan dalam sejarahnya, dakwah selalu bertemu dengan risiko besar: cibiran, tekanan, pengucilan, penjara, hingga pengorbanan nyawa.

Karena itu, sangat berbahaya jika dakwah hanya dipandang sebagai ruang aktualisasi yang menyenangkan, tempat bertemu banyak teman, ruang ekspresi, atau sebatas medan yang memberi rasa hidup. Selama suasana mendukung, selama lingkungan terasa nyaman, selama jalan masih menghadirkan semangat dan kenikmatan, orang mungkin bertahan. Tetapi ketika keadaan berubah—ketika tekanan datang, kenyamanan dicabut, apresiasi menghilang, dan pengorbanan mulai dituntut secara nyata—saat itulah tampak apakah seseorang benar-benar sedang menempuh jalan dakwah, atau hanya sedang menikmati atmosfernya.

Jika hubungan seseorang dengan dakwah dibangun di atas rasa seru, maka istiqamahnya rapuh.
Ia akan bertahan selama dakwah terasa menyenangkan. Tetapi dakwah tidak selalu menghadirkan kesenangan. Ada fase letih. Ada fase sepi. Ada fase tidak dipahami. Ada fase ketika hasil belum tampak, sementara tuntutan terus datang. Bila sejak awal jiwa tidak dididik dengan makna perjuangan dan pengorbanan, maka mundurnya ia hanya tinggal menunggu waktu.

Sebab itu, yang harus ditanamkan sejak awal adalah pemahaman bahwa dakwah adalah jalan penghambaan, bukan panggung kenyamanan. Kita tidak masuk ke dalam dakwah untuk mencari rasa enak, tetapi untuk menunaikan kewajiban. Kita tidak berjalan di jalan ini karena selalu menyenangkan, tetapi karena ini adalah jalan yang Allah ridhai. Maka ukuran utamanya bukan: “Apakah saya masih menikmati?” melainkan: “Apakah saya masih ikhlas, masih sabar, dan masih teguh di atas jalan ini?”

Jika dalam dakwah Allah berikan kemudahan, kelapangan, persaudaraan, dan kenikmatan, maka hadapilah itu dengan syukur.
Jangan sampai nikmat membuat lalai. Jangan sampai kemudahan membuat lupa bahwa ini tetap jalan perjuangan. Dan jika dalam dakwah Allah hadirkan ujian, kesempitan, kekecewaan, atau musibah, maka hadapilah itu dengan sabar. Jangan buru-buru menilai jalan ini berat hanya karena tidak lagi sesuai dengan selera diri. Bisa jadi justru di titik itulah Allah sedang memurnikan niat, meluruskan orientasi, dan meninggikan derajat pengorbanan kita.

Syukur ketika lapang, sabar ketika sempit.
Itulah dua bekal besar agar seseorang tetap istiqamah dalam dakwah. Sebab istiqamah tidak lahir dari suasana yang selalu nyaman, tetapi dari hati yang terus terikat kepada Allah dalam segala keadaan. Orang yang bersyukur saat nikmat datang dan bersabar saat ujian datang, insyaAllah akan lebih kokoh dalam menapaki jalan dakwah. Ia tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan, karena yang ia cari bukan keseruan perjalanan, tetapi keridhaan Allah di ujung perjuangan.

Maka, nikmatilah sisi indah dari dakwah tanpa tertipu olehnya.
Sambutlah kebahagiaan dalam dakwah tanpa menjadikannya fondasi utama. Dan siapkan jiwa untuk tetap berjalan, bahkan ketika dakwah menuntut air mata, kelelahan, kehilangan, dan pengorbanan. Karena di situlah letak kemuliaannya.

Dakwah bukan hanya jalan yang menyenangkan untuk ditempuh. Dakwah adalah jalan mulia yang layak diperjuangkan, berapa pun harga yang harus dibayar.
Jika datang nikmat, bersyukurlah. Jika datang musibah, bersabarlah. Dengan itu, insyaAllah lahir keistiqamahan—bukan keistiqamahan yang bergantung pada keadaan, tetapi keistiqamahan yang tumbuh dari iman, keikhlasan, dan kesadaran akan agungnya amanah dakwah.

Wallahua'lam